Jam di layar komputer menunjukkan pukul lima sore ketika saya akhirnya menutup laptop kantor. Namun, itu bukan tanda hari kerja benar-benar selesai, melainkan jeda singkat sebelum melangkah ke rutinitas berikutnya. Bagi seorang freelancer yang juga bekerja di kantor, waktu terasa berjalan jauh lebih cepat. Sepulang kerja dan makan malam seadanya, saya langsung membuka laptop kembali untuk mengejar deadline proyek paruh waktu yang sudah lama diincar. Momen sibuk ini sangat saya nantikan karena menjadi pijakan besar untuk menambah penghasilan dan mengasah portofolio penulisan saya. Sayangnya, di tengah antusiasme mengejar target, saya lupa bahwa mata memiliki keterbatasan. Layar laptop yang menyala dari pagi hingga melintasi tengah malam menjadi pemandangan utama setiap hari. Saya sering mengabaikan sinyal kecil yang dikirimkan oleh tubuh dan menganggap rasa lelah sebagai konsekuensi wajar dari sebuah perjuangan. Ketika Sinyal Tubuh Mulai Diabaikan di Tengah Kejaran Deadline Hing...
Sudah lebih dari sepuluh tahun saya hidup dari merangkai kata. Dari puisi, esai, cerpen, sampai konten promosi brand. Laptop dan secangkir kopi menjadi saksi, bagaimana saya bisa duduk delapan jam lebih tanpa berpaling dari layar. Dalam dunia menulis, alur ide bisa datang kapan saja dan saya terbiasa mengejarnya hingga titik terakhir. Tapi, siapa sangka, yang awalnya hanya dianggap sepele, bisa menghambat segalanya. Semuanya dimulai dari gejala yang saya abaikan. Mata saya sering terasa sepet , terutama saat menulis dari pagi hingga sore. Saya pikir, “Ah, mungkin cuma kurang tidur.” Tapi hari demi hari, rasa itu berubah jadi perih , menusuk setiap kali saya menatap layar putih. Satu paragraf selesai, saya harus berkedip berulang kali. Dan saat malam tiba, mata ini rasanya begitu lelah , berat seakan membawa beban tulisan yang belum selesai. Sebagai penulis, saya terbiasa menghadapi writer’s block. Tapi kali ini bukan pikiran saya yang macet melainkan mata saya yang menolak bekerj...